UPGRADE wawasan Moms seputar tumbuh kembang Si kecil supaya menjadi
ANAK CERDAS SERBA BISA.
Memasuki usia sekolah menjadi salah satu tahap penting dalam tumbuh kembang anak. Di masa ini, Si Kecil mulai mengenal lingkungan baru, berinteraksi dengan teman sebaya, mengikuti aturan, dan belajar berbagai keterampilan yang mendukung kemandiriannya.
Anak belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan
aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Karena itu, proses belajar
tidak selalu berarti duduk diam di dalam kelas dan mengerjakan tugas. Lantas,
apa saja contoh proses belajar anak usia dini yang dapat dilakukan di sekolah
maupun di rumah? Yuk, simak selengkapnya!
Proses belajar anak usia dini tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan akademis seperti mengenal huruf atau berhitung. Justru, berbagai aktivitas sederhana yang dilakukan di rumah dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar dan mengembangkan kemampuan baru. Agar lebih menyenangkan, orang tua dapat mengajak anak belajar melalui aktivitas visual, auditori, dan kinestetik yang melibatkan berbagai indra serta mendorong anak untuk aktif bereksplorasi.
Aktivitas visual
membantu anak belajar dengan mengamati gambar, warna, bentuk, maupun benda di
sekitarnya. Orang tua dapat mengajak anak membaca buku bergambar, mencocokkan
kartu berdasarkan warna atau bentuk, menyusun puzzle, mengelompokkan mainan
berdasarkan ukuran, atau mencari benda dengan warna tertentu di dalam rumah.
Saat membaca buku, misalnya, orang tua bisa meminta anak menunjuk gambar hewan tertentu atau menebak apa yang akan terjadi pada halaman berikutnya. Aktivitas sederhana ini dapat membantu anak mengenali berbagai objek sekaligus melatih kemampuan mengamati, mengingat, dan memecahkan masalah.
Anak juga dapat belajar melalui berbagai hal yang didengar dalam kesehariannya. Orang tua dapat mengajak anak mendengarkan cerita, bernyanyi bersama, bermain tebak suara, mendengarkan musik, atau sekadar mengobrol tentang kegiatan yang dilakukan sepanjang hari.
Saat bercerita, orang tua dapat memberikan pertanyaan sederhana seperti, “Menurut kamu, kenapa tokohnya melakukan itu?” atau “Kalau kamu jadi dia, apa yang akan kamu lakukan?” Selain memperkaya kosakata, aktivitas ini dapat membantu anak belajar mendengarkan, memahami informasi, menyampaikan pendapat, dan mengekspresikan perasaannya.
Belajar juga bisa dilakukan dengan mengajak anak bergerak dan mencoba sesuatu secara langsung. Beberapa contohnya adalah menggambar dan mewarnai, bermain balok, meronce, membuat prakarya sederhana, bermain peran, menari, menyiram tanaman, atau membantu orang tua melakukan aktivitas ringan di rumah.
Misalnya, ketika menyiram tanaman, anak dapat diajak mengamati apa yang terjadi pada tanaman setelah diberi air. Sementara saat bermain balok, anak dapat mencoba menyusun berbagai bentuk dan mencari tahu bagaimana membuat bangunan agar tidak mudah roboh. Pengalaman langsung seperti ini memberikan kesempatan bagi anak untuk bereksperimen, menggunakan koordinasi tubuh, sekaligus belajar memahami hubungan sebab dan akibat.
Dengan menggabungkan aktivitas visual, auditori, dan
kinestetik, orang tua dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih beragam.
Tidak perlu menyediakan aktivitas yang rumit atau perlengkapan khusus karena
benda-benda yang ada di rumah pun dapat menjadi media belajar. Yang terpenting,
berikan kesempatan bagi anak untuk melihat, mendengar, bergerak, menyentuh,
mencoba, dan menemukan sesuatu dengan caranya sendiri.
Baca Juga: Mau Anak Berprestasi? Ini 5 Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak
Bukan sekadar menjadi pengajar dan pendamping yang
memberikan rasa aman, berikut ini beberapa peran orang tua dalam memberikan pengalaman
belajar yang bermakna bagi tumbuh kembang anak.
1.
Menciptakan
suasana yang aman dan nyaman
Dalam menciptakan
suasana yang membuat anak merasa aman dan percaya diri untuk belajar. Pada usia
dini, anak masih banyak belajar melalui pengalaman dan interaksi dengan
orang-orang terdekatnya. Oleh karena itu, dukungan orang tua tidak hanya berupa
membantu anak menyelesaikan aktivitas, tetapi juga bagaimana orang tua
mendampingi prosesnya.
2.
Berikan
kesempatan pada anak untuk bereksplorasi
Salah satu bentuk
dukungan yang penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba
dan bereksplorasi. Biarkan anak memilih warna yang disukai saat menggambar,
mencoba menyusun balok dengan caranya sendiri, atau mencari jawaban ketika
menemukan sesuatu yang membuatnya penasaran. Tidak apa-apa jika hasilnya belum
sempurna. Kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, lalu mencoba kembali
dapat membantu anak belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses
belajar.
3.
Membangun
rasa percaya diri anak
Orang tua juga
dapat membantu membangun rasa percaya diri anak dengan menghargai proses, bukan
hanya hasil. Alih-alih hanya mengatakan “Wah, gambarnya bagus!”, orang tua
dapat memberikan apresiasi yang lebih spesifik, seperti “Kamu berusaha memilih
banyak warna untuk gambar ini” atau “Kamu mencoba lagi setelah baloknya tadi
jatuh.” Apresiasi seperti ini membantu anak memahami bahwa usaha dan kegigihan
juga merupakan hal yang penting dalam belajar.
4.
Mendorong
anak untuk berpikir kritis
Selanjutnya,
orang tua dapat mendorong kemampuan berpikir kritis dengan mengajukan
pertanyaan terbuka. Ketika anak menemukan sesuatu, tidak selalu harus langsung
diberikan jawabannya. Orang tua bisa bertanya, “Menurut kamu, kenapa bisa
begitu?”, “Apa yang terjadi kalau kita melakukan ini?”, atau “Ada cara lain
nggak untuk membuatnya?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat mendorong anak
untuk berpikir, mengemukakan pendapat, dan mencari solusi.
5.
Memberikan
dan menjadi contoh yang baik bagi anak
Hal yang tidak
kalah penting, orang tua dapat menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Anak
banyak belajar dengan mengamati perilaku orang di sekitarnya. Ketika orang tua
terbiasa membaca, menjaga kerapian, mengonsumsi makanan bergizi, atau
menunjukkan sikap ingin tahu terhadap sesuatu, anak dapat melihat contoh nyata
dari kebiasaan tersebut. Karena itu, proses belajar tidak harus selalu berupa
kegiatan yang sengaja dibuat sebagai “waktu belajar”, tetapi dapat terjadi
melalui rutinitas sehari-hari.
6.
Pahami
minat dan bakat anak
Terakhir,
usahakan agar proses belajar tetap terasa menyenangkan dan sesuai dengan minat
anak. Setiap anak memiliki ketertarikan dan kecepatan belajar yang berbeda.
Orang tua tidak perlu memaksakan anak untuk selalu mendapatkan hasil tertentu.
Dengan memberikan ruang untuk bereksplorasi, mendengarkan pendapatnya, serta
mendampingi tanpa terlalu cepat mengambil alih, orang tua dapat membantu anak
tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, aktif, ingin tahu, dan berani
mencoba hal baru.
Lengkapi Nutrisi Si Kecil untuk Mendukung Proses
Belajarnya
Agar Si Kecil dapat aktif bermain, mengeksplorasi, dan
belajar setiap hari, kebutuhan nutrisinya perlu dipenuhi melalui makanan
bergizi seimbang yang dilengkapi dengan susu pertumbuhan anak sesuai usianya.
Susu HealthyWay KIDS dengan Formula BioShield A+ hadir
sebagai Investasi No. 1 Anak Cerdas Serba Bisa, dengan kombinasi nutrisi yang
mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Untuk mendukung perkembangan otak dan proses belajar, susu
HealthyWay KIDS memiliki Smart A+ yang diperkaya dengan DHA, Omega 3 & 6,
serta Cod Liver Oil. Kandungan tersebut menjadi bagian penting dalam memenuhi
kebutuhan nutrisi yang mendukung perkembangan otak Si Kecil selama masa
pertumbuhan.
Selain itu, Digestive A+ dengan FOS Inulin tertinggi membantu mendukung kesehatan saluran cerna dan pertumbuhan bakteri baik di usus, sehingga mendukung proses pencernaan dan pemanfaatan nutrisi dari makanan. Sementara Immune A+ yang mengandung Vitamin C, D3, E, dan Zinc membantu mendukung daya tahan tubuh agar Si Kecil tetap aktif bermain, bereksplorasi, dan belajar.
Dengan kombinasi Smart A+, Digestive A+, dan Immune
A+, susu HealthyWay KIDS membantu melengkapi kebutuhan nutrisi Si Kecil untuk
mendukungnya tumbuh, aktif, dan menjadi anak cerdas serba bisa.
Artikel Lainnya: Sudah Makan Banyak Tapi Tumbuh Kembang Anak Belum Optimal? Ini Salah Satu Penyebabnya
Proses belajar anak usia dini adalah proses ketika anak memperoleh pengetahuan dan mengembangkan berbagai keterampilan melalui bermain, eksplorasi, interaksi, komunikasi, dan pengalaman sehari-hari yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Contohnya adalah membaca buku bersama, bermain puzzle atau balok, menggambar, memasak bersama, merapikan mainan, mengamati lingkungan, serta mengajak anak berdiskusi mengenai kegiatan sehari-hari. Bermain memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekaligus mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, dan sosial-emosional dengan cara yang menyenangkan.
Peran orang tua
dalam mendidik anak antara lain menciptakan lingkungan yang mendukung proses
belajar, memberikan stimulasi sesuai usia, menemani anak bereksplorasi, memberikan
contoh yang baik, serta memberikan dukungan dan apresiasi.
Source:
Raising Children Network. Learning for babies and young children. https://raisingchildren.net.au/babies/play-learning/learning-ideas/learning-baby-to-preschool